| Add caption |
Minggu, 22 Desember 2013
0
Selama dua tahun sejak pertama aku menginjakan kakiku di kelas bercat biru laut ini, dan sekarang aku sudah kelas dua belas kelas atau kelas terakhir selama aku menggunakan seragam putih abu ini. Ujian pun sudah beberapa minggu lalu berlalu, tapi sesekali aku dan teman sekelas masih harus datang ke sekolah untuk ujian praktek dan mengerusi tektekbengek untuk kelulusan nanti. Dinding biru muda ini seolah sudah siap menjadi saksi bisu akan perasaan yang masih betah bersemayam di pikiranku sampai detik ini, mungkin sudah dua tahun lebih atau justru dua tahun kurang beberapa bulan. Entah… aku tak tau kapan waktu pastinya. Aku hanya tau ini bukan cerita cinta pada pandangan pertama. Tapi aku pun tak pernah sadar kapan pertama kali nama ini bersemayam manis tanpa permisi di bagian hati yang tak pernah ku tau pasti letaknya.Yodha, ya itu nama panggilannya, lima huruf yang belakangan makin sering selap-selip dalam pikiranku dan makin menumpuk dalam dinding-dinding hatiku ini. Seolah aku pun sudah tak lagi punya ruang kosong untuk menyimpan lagi secuil apa pun di hatiku, sudah terlalu penuh karenanya. Dua tahun bukan waktu yang sedikit kan untuk menumpuk jutaan kenangan. Sampai aku tak tau sampai kapan harus tetap menyimpan dan menyimpan… sampai penuh? Rasanya takkan ada kata penuh untuk kenangan dengannya, mh… mungkin sampai aku merasa… cukup.“Shita!” ada yang menepuk pundakku. Ternyata itu Mia teman semejaku saat di kelas sebelas dan dua belas. Ya, kami cukup akrab. Dan dia adalah satu-satunya orang yang tau setumpuk perasaan dan kenangan dengan Yodha yang kusimpan rapih-rapih.“Hei Mi.” aku pun keluar dari lamuananku yang lumayan lama tadi.“Bengongin apa sih?”“Itu lagi liatin coretan dinding temen-temen sekelas. Gak berasa ya Mi, dah mau pelulusan dan kita bakal jalan sendiri sediri mungkin bakal susah ketemu lagi atau malah gak bakal ketemu lagi.”“Hust! Horror ah. Kan sekarang dah banyak alat komunikasi, ada telepon, sms, chating, email lo ada di ujung dunia juga kita masih tetep bisa kontekan kok.”Di dinding kelas terpampang karton besar berwarna biru laut (sama dengan warna dinding kelasku), di karton besar itu ada coretan berisi kalimat perpisahan, kesan atau kenangan atau ada juga yang nyempilin tanda tangan. Ya itu dibuat Mia si sekertaris kelas beberapa saat sebelum ujian nasional. Semua murid di kelas wajib memeberikan coretan tangannya di sana sebagai kenang-kenangan sebelum benar-benar meninggalkan kelas berdinding biru laut ini.“Tuh kan Ta, lo bengong lagi? Apaan sih? Hm… Mister Love yah? Mikirin dia lagi? Tadi dia ada tuh lagi maen-maen sama anak-anak bola di lapangan. Reuni kali sama klub bola jadi-jadian kelas kita.”Aku cuma menyinggungkan senyum gak semangat. Mia hanya menggeleng pelan tak kentara. Aku tau Mia sudah sangat gemas dengan tingkahku yang bisa-bisanya menyimpan dan menyimpan sebegini lamanya. Mia mungkin saja sudah hapal dengan cerita yang sering ku ulang berkali-kali tentang Yodha. Beberapa kali Mia menyarankan aku untuk mengungkapkan perasaan ini, tapi entah… aku masih berpikir tak habis-habis. Malu, takut, berdebar dan aku masih punya segudang alasan lainnya. Aku tak seperti cewek-cewek di komik jepang yang bisa langsung bilang I love you dengan lancar dan mudahnya tanpa peduli resiko apa yang akan terjadi kelak. Tapi namanya juga komik biasanya selalu happy ending kan, lalu bagaimana dengan cerita cintaku apa iya akan se-happy ending komik-komik jepang yang sering aku baca?Tanpa instruksi kakiku mengikuti Mia melangkah keluar kelas. Dan kami sama-sama berhenti menatap lurus ke ujung lapangan. Ada Yodha di tengah lapangan yang tak terlalu luas itu. Aku tertegun menatap ke arah lapangan itu.“Untuk kesekian kalinya gue tanya ya Ta, apa lo bakal ngimpan perasaan ini selama-lamanya? Lo gak kepikiran buat nyatain ke Yodha? Toh sejak kita kenal sampe sekarang dia masih jomblo.”Aku hanya melirik sekilas ke arah Mia dan Mia hanya menghela napas berat. “lo gak takut nyesel kemudian, kalau perasaan lo gak bisa lo ungkapin?”“Kalau jodoh gak kemana kan Mi?”“Ya tapi gak mesti ditungguin gini juga kan, mana iya si jodoh bisa tau begitu aja tanpa ada sinyal-sinyal dari lo?”“Bisa bisa aja.”“Hhh… dasar lo ah, gue sampe bosen denger jawaban lo yang begini-begini aja. Ta, sekali-kali sesuatu itu bukan cuma buat kita harapin dan doain aja tapi harus ada usahanya.”“Mungkin belum waktunya kali, Mi.”“Terus waktunya kapan? Euh, jangan bilang pas dia udah ngeduda.”“Hust! Lo tuh kalo ngomong gak disaring dulu.”Mia mengangkat bahu, aku melihat raut wajah gemas darinya aku hanya tersenyum kecil dan kembali fokus ke arah lapangan sana.@@@Teman-teman sekelas akan mengadakan acara untuk memeriahkan acara kelulusan. Kelasku rencananya akan mengadakan acara theater musikal sederhana dengan tema cerita putri salju dan tujuh kurcaci. Hari ini diadakan rapat kelas tentunya diruangan kesayanganku di ruang bercat biru laut.“Baiklah… teman-teman udah ambil kertas undiannya masing-masing kan? Nah berhubung semuanya pakai system undian jadi gak bisa ada yang protes ya harus terima peran masing-masing.” Mia dan Aldo si ketua kelas sedang bercuap suap di muka kelas menjelaskan rapat santai siang ini untuk menetukan pemeran dalam acara theater kelas nanti.Dengan agak berdebar, aku pun membuka lembar gulungan kertas kecil wana putih. Dan… snow white / putri salju. Astaga! Aku kan gak bisa acting. Ah… teriakanku tertelan begitu saja. Dan aku manut-manut sendiri saat tau percuma karena gak bisa protes. Euh… padahal aku berharap jadi pohon-pohonan aja atau jadi kurcaci aja yang kerjaannya cuma nyanyi-nyanyi tanpa dialog yang berat-berat. Aaarrrghh… apa-apaan ini kok malah dapet peran putri? Berkali-kali aku baca ulang dan ku putar-putar kertasnya tapi tetap saja tulisannya tak berubah.“Baiklah… jadi siapa putrinya? Kok gak ada yang maju?” aku menatap ke arah muka kelas, sudah banyak teman-teman yang berdiri di depanku. Aku memutar pandangan sudah sepi di sekitarku. Ah, lagi-lagi aku terlalu asik bengong dan gak tau apa saja yang sudah dibicarakan Mia barusan.“Ta, kok lo masih bengong di bangku? Lo dapet peran apa?” sosok tinggi itu menghampiriku, aku makin berdebar. Aldo menarik pelan tanganku mengajaku berdiri dan menuju ke muka kelas.“Mana kartu lo?” Mia mengulurkan tangannya. Dengan gemetar aku berikan juga kartunya.“Yay! Jadi Sitha yang jadi putrinya dan ternyata menurut hasil undian yang jadi ksatrianya adalah…” Mia memberi jeda entah mengapa wajahnya tampak berbinar saat melirik ke arahku sambil mengerling yang belum aku tau maksudnya.“Siapa?” aku jadi ikutan penasaran, Mia menggantung ucapannya.“Yodha,” jawab Aldo cepat. “oke, kalian harus udah siap sama peran masing-masing ya. Dua hari lagi kita latihan di sekolah selama dua minggu dan harus bisa nampilin theater terbaik pas acara pelulusan nanti. Jadi temen-temen mohon kerja samanya.”“Gila!” aku memekik tanpa sadar, dan spontan semua mata melirik ke arahku. Hanya Mia yang masih menatap sambil berbinar-binar dan sesekali mengerling aneh lagi. Aku tersenyum pasi ke arah teman-teman yang lain dan hanya dibalas gelengan kepala atau senyuman gak ngerti dari yang lain. Ah… Gila! Aku teriak lagi kali ini dalam hati tapi lebih keras dari pada yang lewat suara tadi. Gilaaa…!@@@“Gue gak bsia acting Mi,” aku melempar script naskah drama buatan Mia ke ujung tempat tidur. Hari ini hari pertama latihan dan Yodha gak datng tadi tapi Mia masih semangat menyuruhku menghapal dialog Putri salju buatannya.“Ya dicoba dulu toh, gak ada yang mustahil kalau udah dicoba pasti bisa.”“Mi, tadi aja Yodha gak datang. Pasti karena dia tuh gak mau kalih pasangan sama gue. Atau dia juga sama kayak gue, gak minat main drama beginian.”Mia menggeleng cepat sambil beringsut meraih script drama yang baru ku lempar, “dia sakit, kena flu katanya besok juga datang kok latian.” Mia menyodorkan lagi script dramanya, “pokoknya lo gak boleh ngecewain gue.”“Ngecewain?”“Ta, ini tuh kesempatan bagus. Kapan lagi coba ada momen lo bisa bener-bener deket sama doi? Bisa ngobrol, bisa jadi pasangan ya walau pun sekarang baru di acara drama kelas tapi siapa tau bisa berkembang?”“Udah ah lo mulai ngaco, gue pulang aja.” Aku beringsut menjauh dari Mia menuju pintu kamarnya.“Ta, sori kalo gue terlalu ikut campur,” Mia mengejarku dan mencegahku keluar kamar. “tapi gue cuma mau lo punya sesuatu sebelum bener-bener berpisah sama Yodha ya itu kemungkinan terburuk kalau lo gak jodoh. Tapi bukankah kemungkinan terburuk justu yang harus diperhitungkan lebih?”Sesampainya di rumah Sitha jadi kepikiran terus sama ucapan Mia. Hm… apa iya ada benernya juga ucapan Mia. Apa suatu saat justru malah gak bisa ketemu Yodha lagi… atau…@@@Hari ini pun tiba hari kelulusan. Siswa-siswi SMA BudiBagus lulus dengan persentase kelulusan 100%. Dan acara pelulusan pun diwarnai dengan gemuruh hiruk pikuk di halaman sekolah karena sekolah sekarang melarang muridnya merayakan kelulusan dengan mencoret-coter kemeja seragam diganti dengan acara pensi dari kelas-kelas dan ternyata peminatnya lumayan banyak, di luar dugaan. Tenyata lebih baik dengan kegiatan yang sedikit mendidik dan bermanfaat ketimbang konvoi dan corat coret gak jelas, begitu kutipan kepala sekolah saat upacara pelepasan tadi pagi.Di ruang ganti kelasku semua sedang sibuk masing-masing ada yang merias wajah, gonta ganti baju atau ada juga yang sedang menghapal teks drama mereka.“Mi, gue grogi.” Aku meremas jemariku kuat-kuat yang sudah terasa amat sangat dingin sekali.Mia menepuk pundakku sesekali, “lo punya dua misi, yang satu bikin drama yang bagus, ke dua bikin Yodha tau kalau ada cewek cantik yang udah jatuh cinta selama dua tahun sama dia. Okei?”“Ah, yang kedua gue gak yakin.”“Shitaaa…! Lo kan udah janji, apa perlu gue turun tangan beneran?”“Ahaha… iya iya tenang aja,” Aku mengerling genit ke Mia dan siap-siap dibelakang panggung karena berapa menit lagi adalah giliran kelas kami dan theater musical sederhana bertema putri salju ini tampil.Yodha sudah sejak tadi bersandar pada tiang di belakang panggung. Dengan jantung dan ketukan kaki tak seitama aku mendekat ke arahnya. Ya, belakangan kami hampir akrab karena sering bertemu dan ngobrol untuk latihan drama di sekolah.“Hei Ta,” dia langsung menatapku saat tau aku sudah di sampingnya. Pakaian kstarianya sangat pas di tubuh Yodha, dia mirip cowok di cerita dongeng anak kecil yang keluar dari buku dongeng dan menjelma manusia betulan.“Hei,” aku kembali meremas telapak tanganku yang makin kaku dan dingin.“Lagi… lagi nervous, ehehe…” tawanya terdengar tanpa beban walau dia bilang lagi nervous. Mau tak mau senyumku mengembang tak diminta.“Baju kstarianya bagus banget dipake sama lo,” ups… kayaknya aku baru aja keceplosan deh. Aku pun cepat-cepat diam Yodha menatapku cepat.“Lo juga, pantes jadi putri saljunya. Bajunya cocok.” Katanya setelah ada jeda beberapa detik dan kami sama-sama melempar senyum.Beberapa detik kami larut dalam acara saling lempar senyum sampai akhirnya berapa detik kembali sepi dan setelah menarik napas dalah aku tekadkan harus bicara. “Dha, ada yang mau aku bilang.”“Eh ya, apa?”“Hm… aku…” Yodha menatapku menunggu kata selanjutnya keluar, aku makin tak tenang. matanya seolah mengunci mataku tapi tiba-tiba bibirku kelu. Hm… mungkin lima menit lagi kami harus naik ke atas panggung dan memerankan putri dan ksatrianya tapi aku ingin jadi putri yang sebenarnya untuk Yodha saat ini.Tapi setelah berapa detik aku pun masih belum sempat ucapkan apa pun.“Siap-siap ya, dua menit lagi,” Aldo yang entah sejak pana ada di samping kami, berhenti sebentar menepuk pundakku dan Yodha bergantian.Yodha tampak mengangguk, saat aku siap-siap naik ke atas panggung dari tirai belakang Yodha menarik tanganku, “Eh Ta, liat deh. Itu cewek yang pake baju kurcaci warna merah tua.”Aku menghentikan langkahku, “apa?”“Dia pacar gue, hm… baru dua minggu sih jadian. Eh, lo sahabat pertama yang gue kasih tau lo Ta, jangan digosipin ya. Ya gue tau lo bisa dipercaya makanya gue pilih lo buat jadi orang ketiga yang tau hubungan gue setelah dia dan gue. Ta, sejak dua minggu kemaren gue kenal lo dan ngerasa deket aja tiba-tiba sama lo, ngobrol kita juga nyambung dan gue seneng banget Ta sapet sahabat kayak lo. Ta, walau pun nanti kita gak bisa sering-sering ketemu soalnya gue bakal…”“Ta kok bengong cepetan, udah mau mulai!” Aldo meneriaki kami dari ujung sana. Aku menoleh cepat ke Yodha, “nanti dilanjutin lagi yah?”lanjutin? Padahal mana Yodha tau barusan saja hatiku tercabik-cabik olehnya, dia berhasil sukses melukai hari mungil ini tanpa permisi dan tanpa sengaja. Ya Yodha gak bermaksud menorehkan luka yang bahkan dia pun tak tau penyebabnya ini.Peran putri salju baru dimulai, sepenuh hati, sebisa ku mainkan peran ini dengan sebaiknya. Dan saat adegan putri salju menerima apel beracun dari nenek sihir saat itu pula aku sangat menghayati perannya. Aku benar-benar ingin memakan apel beracun sekarang dan tertidur selama-lamanya sampai ada kstaria sebenarnya yang akan membangunkanku dengan kecupan abadi.Acara drama pun selesai, acara kelulusan ditutup dengan acara nangis masal. Aku dan teman sekelas berkumpul sambil berisak-isakan. Saat masih ingin puas menangis untuk dua alasan berbeda sebuah tangan hangat menarikku dari kerumunan teman-teman. Tangan Yodha.“Ta, tadi gue belum selesai ngomong dan lo juga kan ada yang mau lo omongin apaan? Ya udah lo duluan aja?”“Eh… ng… gue… gue gak ada Dha, gak penting. Emang lo masi mau cerita apa lagi? Tentang cewek lo itu? Apa?” aku menguatkan hatiku supaya tak berdarah saat ini.“Hm… bukan gue mau bilang kalau gue bakal nerusin kuliah gue di Jerman. Bokap Nyokap gue kan kerja di sana, gue di sini kan sama Nenek. Gak enak gue nyusain beliau dari gue masih kelas tiga SMP, nah sekarang gue mau balik ke Jerman.”“Apa???”“Hm… kok kaget gitu sih Ta?”Aku menggeleng cepat, tapi kali ini tak tahan lagi air mataku terus mulai menitik pelan-pelan. Aku menangis tanpa suara. Dua berita buruk sekaligus mungkin hanya malaikat yang tak kan menangis mendengarnya. Harus tau orang yang disukai memilih gadis lain dan saat yang bersamaan seolah waktu memang tak mengizinkan lebih dari ini, dia harus pergi tanpa aku tau apa masih ada secuil kenangan yang akan ada lagi setelah hari ini atau ini kenangan terakhir dengannya?Entah Yodha mendengar atau tidak teriakan dalam hatiku yang berkali-kali mengucapkan… aku cinta padamu, aku sayang padamu, aku tak mau kau pergi jauh dariku…Yodha… aku jatuh cinta padamu…Satu cinta yang tak terucap namun dia mengalir bersama air mata sore ini, menghangat dan masih menghangat bersama kenangan yang akan dia tinggalkan di sini, di dalam hatiku. Walau akhirnya aku belum juga bisa mengucapkannya dengan tiga kata sakral itu… aku cinta padamu…The end…
Cinta yang tak sempat terucap
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Read Now !
-
Add caption Selama dua tahun sejak pertama aku menginjakan kakiku di kelas bercat biru laut ini, dan sekarang aku sudah kelas dua bela...
-
1. Pasangan Menikah Termuda Di Dunia Setiap gadis kecil bermimpi tentang perkawinannya suatu hari kelak. Memakai gaun putih, dan c...
-
Cerita ini dari pengalaman gue yg selalu salah melangkah , gak ngerti juga siapa yg salah di cerita ini ,mungkin anda bisa menyimpulka...
-
"selasa malam jam 7" kita berantem besar dan ini seperti tidak di buat buat karna gue yg memulai.. dan benar benar sakit h...
-
Pernah tidak anda menyaksikan bagaimana seekor berang-berang bekerja? Jika belum, maka anda akan terkagum-kagum atas apa yang bisa merek...
-
More Sharing Services Share Share on facebook Share on myspace Share on google Share on twitter Setelah masa bulan madu seles...
-
Apakah Anda percaya akan cinta sejati? Dan bagaimana dengan cinta pertama? Atau cinta yang tak akan pernah ada habisnya? Anda boleh tertaw...
-
Mencintai bukanlah suatu kesalahan. Tapi terkadang kita salah tempat. Cinta itu bisa timbul kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja. D...
-
Kuakui, mengenal dia seorang gadis Muslim yang cantik dengan pakaian khas muslimahnya membuatku sedikit meliriknya. Bagaimana dia dengan t...
-
Kisah yang diangkat dari sebuah kisah nyata cinta seorang pria dengan PSK Malam itu, seharusnya bukan jadi malam milik gua. Malam yang ...
view
Label
- COPY PASTE (5)
- Rommy dan Indi (2)
Daftar cerita
-
▼
2013
(
12
)
-
▼
Desember
(
12
)
- 4 Masalah yang Bisa Muncul Usai Bulan Madu
- Kesalahan Yang Sama
- Cinta yang tak sempat terucap
- Pasangan - Pasangan Unik dan Langka di Dunia
- Kalung Salibku dan Kalung Tasbihmu
- Kisah cinta seorang pelacur
- aneh tapi nyata
- Rencana mu Rencana ku
- LIFE AND LOVE BERANG BERANG
- Antara kita dan hujan
- 7 Cerita cinta paling romantis
- Akhirnya ku dapat kan kamu..
-
▼
Desember
(
12
)
Cinta mulu. Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar